Being A Hijabi, Simple But Not That Easy

Hai…siang2 mau berbagi cerita nih ttg kita yg sudah jadi “jilbabers”,”hijabers”,”hijabi”, dll. Apapun sebutannya maknanya satu “Muslimah yang menutup auratnya dengan Jilbab/Hijab”. Terdengar biasa tapi menarik untuk ditelaah. Ini cerita dari kacamata seorang gw yang jauh dari sempurna ya…karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.

So, jaman sekarang nih gaya para muslimah itu beragam, dari gaya hijabnya, fashion, gaya hidupnya, kajian2 Al-Quran yg bertempat bukan saja di masjid tapi bahkan sampai ke cafe, resto, dna usat perbelanjaan. Ada yang Syar’i (gamis+jilbab lebar), modis (dari gaya preppy look, retro, feminin, sampai high couture), nah…salahkah?

Menurut gw, banyak gaya itu karena adanya perbedaan tafsir dari pengertian dan pemakaian jilbab, serta gaya berpakaian dan kemajuan teknologi. Walaupun sejatinya…para muslimah memang diwajibkan untuk Syar’i. Namun, namanya juga manusia pasti ada proses….ada pembelajaran…ada kritik dan pembenaran.

Tanpa berusaha menghakimi komunitas tertentu, gw cuma mau bilang ga usah lah menghakimi gaya pakaian+jilbab tmn2 lo atau siapapun yang lewat dpn lo, walaupun lo tau itu kurang syar’i misalnya. Ya lo tinggal liat sendiri, lo jilbab+pakaiannya sudah syar’i blm?? Sikap dan bahasa yang digunakan sudah ahsan belum? Klo masih suka random kayak gw mending diem dan saling mendoakan aja neng. Karena mereka sudah mau menutup aurat, masih banyak loh muslimah diluar sana yang belum mau menutup aurat.

Jadi seorang hijabi terasa gampang tapi sebetulnya tidak mudah, karena kita pun dituntut untuk menjadi sempurna, padahal mereka (yang sotoy nuntut2) lupa bahwa manusia jauh dari sempurna. Jadi….mending niat yang tulus, bismillah, dan ?? ??? ???? jalan kita untuk istiqomah dipermudah Allah SWT, ???????… ???????… ?? ?? ????? ???????? .